Pasar global menjadi lebih berhati-hati pekan lalu seiring ketegangan baru di Selat Hormuz yang mendorong harga minyak naik dan menantang rotasi terbaru ke aset pertumbuhan. Saham AS tetap relatif tangguh, sementara Eropa dan Tiongkok tertinggal di tengah sinyal pertumbuhan yang melemah dan sensitivitas energi yang kembali meningkat.
Minyak mentah WTI telah pulih setelah aksi jual tajam menuju area rendah di sekitar $80, memunculkan pertanyaan penting bagi para trader: apakah ini awal dari pemulihan yang lebih luas, atau hanya pantulan sementara?
Selama bertahun-tahun, investor cenderung menganggap obligasi sebagai latar belakang dan saham sebagai sorotan utama. Kini, anggapan itu semakin sulit dipertahankan. Di AS, imbal hasil Treasury 10-tahun berada di 0,52% pada 4 Agustus 2020, naik menjadi 4,26% pada 17 April 2026, dan sempat melewati 5% pada Oktober 2023. Biaya acuan uang telah berubah secara signifikan, dan kini investor memantau imbal hasil pemerintah hampir sama saksamanya dengan memantau indeks saham.
Pasar global menguat minggu lalu seiring turunnya harga minyak dan Selat Hormuz yang tetap terbuka membantu mengurangi harga krisis dan meningkatkan sentimen risiko. Saham memimpin kenaikan, imbal hasil menurun, dan investor kembali berotasi ke sektor pertumbuhan, meskipun ketegangan geopolitik yang kembali muncul masih mengancam pemulihan.
Pada pandangan pertama, ide ini terlihat sederhana. Jika pasar memasuki kondisi “overbought”, maka seharusnya terjadi koreksi. Asumsi ini biasanya berasal dari RSI, di mana level di atas 70 sering diartikan sebagai peringatan bahwa harga mungkin telah naik terlalu jauh dan terlalu cepat.