Pasar menutup bulan Mei dengan pijakan yang kuat seiring meredanya ketegangan geopolitik, turunnya harga minyak, dan kepercayaan yang terus berlanjut terhadap laba korporasi yang membantu menopang sentimen risiko di seluruh kelas aset global. Meskipun inflasi tetap tinggi dan data pertumbuhan AS melemah, investor sebagian besar mengabaikan hambatan makro. Sebaliknya, perhatian tetap tertuju pada laba yang tangguh, investasi kecerdasan buatan, dan tanda-tanda bahwa ketegangan di sekitar Selat Hormuz mungkin mulai mereda setelah adanya kemajuan dalam negosiasi AS-Iran.
Pekan lalu, pasar terus menembus rekor baru sebelum akhirnya momentum mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan seiring kenaikan imbal hasil obligasi, kekhawatiran inflasi yang kembali muncul, dan ketidakpastian geopolitik yang memicu pembalikan tajam di akhir pekan pada aset berisiko. S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones Industrial Average semuanya mencatat rekor tertinggi baru selama pekan tersebut, didukung oleh laba perusahaan yang tetap solid, antusiasme berkelanjutan terhadap investasi kecerdasan buatan, dan data ekonomi AS yang umumnya lebih kuat dari perkiraan.
Markets moved into a more cautious phase last week as persistent inflation, rising sovereign yields and renewed energy volatility challenged the softer “goldilocks” narrative that had supported risk appetite through April and early May. While economic activity remained relatively resilient across major economies, stronger-than-expected US inflation data and surging oil prices forced investors to reassess the likelihood of near-term policy easing. The result was a broad repricing across bonds, currencies and equity sectors, with markets increasingly focused on inflation persistence rather than growth optimism alone.
Pasar bergerak menuju sentimen yang lebih konstruktif minggu lalu, seiring pertumbuhan yang tangguh dan inflasi yang melambat mendukung rotasi bertahap kembali ke aset berisiko.
Pasar global stabil pada pekan lalu seiring fokus kembali pada perbedaan kebijakan. Ketahanan AS terus mendukung sentimen risiko, sementara Eropa dan Asia tertinggal, memperkuat lingkungan pasar yang lebih selektif.