Data ketenagakerjaan AS yang kuat, kenaikan harga minyak, dan volatilitas pasar obligasi mewarnai pasar global selama pekan yang berakhir 4 September 2026. Data penggajian melampaui ekspektasi, minyak mentah Brent naik 7,6%, dan pergeseran ekspektasi suku bunga memengaruhi ekuitas, obligasi, valuta, serta komoditas.
Inflasi AS yang persisten dan pergeseran ekspektasi suku bunga Federal Reserve membentuk pasar global selama pekan yang berakhir 28 Agustus 2026. Laba kuat Nvidia menopang saham teknologi, sementara penguatan dolar dan perubahan ekspektasi suku bunga memengaruhi mata uang, obligasi, dan komoditas.
Pasar global menjadi lebih berhati-hati seiring meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah, ketegangan baru seputar Iran, dan harga minyak yang lebih tinggi membebani selera risiko. Ekuitas AS mengakhiri pekan dengan penurunan, sementara minyak, logam mulia, dan mata uang kripto mencatat kenaikan yang signifikan. Data ekonomi menunjukkan gambaran yang beragam, dengan aktivitas jasa AS yang menguat, momentum China yang melemah, dan inflasi Jepang yang semakin cepat.
Inflasi AS yang lebih rendah mendukung pasar selama sepekan, namun penjualan ritel yang lemah dan meningkatnya kembali ketegangan geopolitik mempersulit prospek suku bunga, harga minyak, dan ekuitas global. Ekuitas AS mencapai rekor tertinggi baru, sementara kinerja sektor dan kawasan terpecah tajam. Yen Jepang menjadi mata uang yang paling melemah, sedangkan Tiongkok mencatatkan kinerja regional terburuk di tengah lemahnya permintaan kredit.
Data pasar tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan dan satu lagi pekan kuat laporan laba perusahaan membantu pasar saham global reli ke rekor tertinggi selama pekan pertama Agustus. Penurunan tak terduga pada nonfarm payrolls bulan Juli mendorong investor untuk mengurangi ekspektasi pengetatan lebih lanjut oleh Federal Reserve, sementara laba sektor teknologi yang tetap tangguh terus mendukung selera risiko.